| Sekilas Fenomena Kepemimpinan Dalam Islam | ||||
|
Siapakah pemimpin Islam Indonesia ? Suhartokah ? Abdurrahman Wahid ? Amin Rais ? Akbar Tanjung ? Emha Ainun Nadjib ? SBY? atau Ketua Umum Pusat Majelis Ulama Indonesia ? Entahlah.Agaknya, salah satu kelemahan terbesar dari umat Islam adalah tidak adanya pemimpin yang bisa disepakati bersama. Kelemahan mendasar ini melakhirkan kelemahan kedua yang yang merupakan derivasi dari kelemahan pertama tadi; yaitu tidak adanya program yang sama dari umat Islam. Singkatnya umat Islam belum mempunyai depinisi yang sama tentang siapa sebenarnya yang disebut sebgai pemimpin Islam. Problem yang menyangkut siapa yang bisa disebut pemimpin Islam atau yang dalam khazanah Islam lazim dikenal dengan terma imamah atau khilafah adalah masalah besar yang hingga saat ini masih belum terpecahkan. Dalam pandangan syahrastani, penulis buku Al-Milal wan Nihal yang masyhur itu, pertentangan yang paling besar sepanjang sejarah Islam adalah pertentangan imamah. Karena menurut Syahrastani, tidak pernah pedang dihunus karena pertentangan imamah. Kaitannya dengan persoalan klasik yang tak selesai-selesai ini, ada dua mazhab besar Islam yang mempunyai pandangan berbeda mengenai apa yang disebut Imamah ini, yakni Sunni dan Syi’i. persoalan imamah ini menjadi perbedaan paling esensial antara kedua madzhab besar Islam itu. Ibnu khaldun, dalam Muqadimah-nya yang terkenal, menyatakan bahwa imamah adalah urusan kemaslahatan manusia, dan sama sekali bukan urusan akidah sebagai pandangan kalangan Syi’ah. Dalam kacamata Syiah, kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang melanjutkan Nabi. Karena ulama adalah pewaris Nabi, maka yang disebut pemimpin Islam adalah para ulama. Ia harus memiliki sejumlah persaratan, sebagaiman ditulis Afif Muhammad dalam Kepemimpinan dalam Perspektif Syi’ah, misalnya ia harus mujtahid mutlak, berkepribadian bersih, dan paham dengan seluk beluk ilmu keislaman seperti filsafat, tasawuf, polotik, dan sebagainya. Kalangan Sunni juga memprasaratkan sejumlah kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin Islam, misalnya harus seorang fuqaha, kifa’ah, adalah, salamah, dan sebagainya. Dalam konteks Indonesia, Jalaludin Rakhmat mengajukan setidaknya tiga definisi pemimpin Islam. Pertama, pemimpin Islam ialah pemimpin msyarakat yang beragama Islam. Dengan definisi ini, Suharto adalah pemimpin Islam; Gubernur Bali yang Hindu adalah pemimpin Islam karena ia adalah pelindung dan penasihat MUI Provinsi Bali; pejabat yang rajin shalat Jumat dan dalam pidatonya senang mengutifnya ayat, adalah juga pemimpin Islam. Defini kedua, menurut Jalal, pemimpin Islam sebagai ulama sekarang mengalami devaluasi makna. Ualama tidak disyaratkan faqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Fuqaha yang dibesarkan dalam system pendidikan Islam (misalnya pesantren) dan menghabiskan usianya untuk mendalami Islam, telah tersiongkir bukan saja dari mimbar Jumat tetapi juga dari majelis-majelis ilmiah. Mendefinisikan pemimpin Islam sebagai cendekiawan (atau bahkan birokrat) telah menimbulkan ekses yang tidak ringan dan kadang menimbulkan kesimpang siuran. Hasil Ijtihadnya menjadi kacau dan membingungkan. Pernah misalnya, ada tokoh pemimpin Islam yang berijtihad bahwa para perusuh halal darahnya. Ijtihad semacam ini, dinilai banyak kalangan, bukan saja tidak arif tetapi juga mengundang tertawaan. Pada waktu belakang, pemimpin Islam semakin diperlonggar lagi. Pemimpin Islam adalah mereka yang menjadi ketua MUI. Biasanya, ketua MUI ditunjuk berdasarkan selera pengusaha, tidak peduli seberapa jauh pengetahuan ia tentang agama. Fatwa lebih banyak keluar sesuai dengan definisi situasi pengusaha ketimbang yang dihajatkan orang banyak. Definisi terakhir, ketiga, pemimpin Islam adalah tokoh-tokoh yang menduduki pimpinan dalam organisasi-organisasi, baik orms maupun partai, yang pernah berasaskan Islam, dan yang sedikitnya mengaku memperjuangkan Islam. Tetapi, definisi ini pun, aganya, juga tidak menyelesaikan masalah. Singkatnya, umat Islam msih menyimpan sejumlah “pekerjaan rumah” yang besar dalam merumuskan siapa sebenarnya pemimpin mereka. “Bila saja seluruh umat Islam sepakat untuk merasakan perlunya kepemimpinan dan pemimpin, serta sepakat dalam mendefinisakannya” maka, tulis Abdul Husain Muhammad Ali, “mereka akan memperoleh prestasi yang lebih banyak dari apa yang dapat dilakukan oleh mereka selama ini. |









Siapakah pemimpin Islam Indonesia ? Suhartokah ? Abdurrahman Wahid ? Amin Rais ? Akbar Tanjung ? Emha Ainun Nadjib ? SBY? atau Ketua Umum Pusat Majelis Ulama Indonesia ? Entahlah.