| Filsafat Sains Islam | ||||
|
Filsafat, banyak orang menganggapnya sebagai suatu hal yang sulit untuk diterima keberadaannya. Tatkala mendengar ada orang berfilsafat, maka asumsi yang muncul cenderung menganggap bahwa dia mulai memasuki daerah yang menyesatkan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru dengan filasafatlah orang akan menemukan hakikat dari segala sesuatu yang ada, mengingat filsafat itu sendiri berarti melihat segala sesuatu dengan penuh perhatian dan minat, atau berfikir tentang segala sesuatu dengan disadarinya. Bagi seorang ilmuwan, berfikir filsafat merupakan suatu keharusan, sehingga ia tidak hanya mengenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri, tapi ia melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lain; kaitan ilmu dengan moral, akaitan ilmu dengan agama, dan akhirnya mendapatkan keyakinan tentang kaitan ilmu dengan kebahagiaan dirinya. Inilah yang dimaksud dengan sifat menyeluruh dari filsafat. Di samping itu, berfikir filsafat akan menggiring seorang ilmuwan untuk melihat pijakannya. Ia akan mempertanyakan tentang kebenaran ilmu. Ia akan berfikir secara mandasar, melihat hakikat ilmu itu sendiri, sebagai ciri lain dari berfikir filsafat. Walaupun demikian, berfilsafat tidak bisa lepas dari cirinya yang ketiga, yakni sifat spekulatif. Seorang ilmuwan tidak mungkin menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikirannya yang mendasar, dalam hal ini ia hanya berspekulasi. Memang spekulasi bukanlah suatu dasar yang bisa diadakan, namun bagi seorang filsuf hal ini tidak bisa dihindarkan. Yang penting dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, ia bisa memisahkan antara spekulasi yang dapat diandalkan dan yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Berdasarkan fenomena di atas, maka lahirlah filsafat ilmu, sebagai alat bantu seorang ilmuwan dalam mencari gambaran tentang ilmu pengetahuan dari berbagai sisi, atau studi masalah eksplanasi, artinya bagaimanakah menjelaskan tentang ilmu menurut proses berfikir yang logik dan rasional. Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah)2. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis3. Ilmu atau pengetahuan sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung bukti empiris4. Ia juga merupakan cabang pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmi-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena pemasalahan-permasalahan tekhnis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pambatasan masing-masing bidang yang ditelaah yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencerminkan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat , namun tidak terdapat perbedaan prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dimana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama. Permasalah yang muncul dalam makalah ini adalah bagaimana ilmu-ilmu itu atau dalam hal ini sains modern bisa menjadi sains Islam? Perlukah adanya penyesuaian ontologi, epistemologi dan aksiologinya dengan ajaran Islam? Maka, setelah penulis menguraikan tentang apa itu filsafat ilmu, dalam makalah ini penulis akan mencoba untuk membahas lebih lanjut mengenai filsafat ilmu yang lebih spesifik mengkaji hakikat ilmu yang islami, atau dengan istilah lain filsafat sains Islam. Pencarian filsafat Sains Islam Pada tahun 1985, Mash-hood Ahmed mengadakan penelitian tentang “etos Islam dan ilmuwan muslim”. Studi ini meneliti tentang sikap ilmuwan-ilmuwan muda dan senior muslim terhadap sains modern, dan bagaimana tanggapan mereka tentang isu sains Islam. Menurut Ziauddin Saddar dalam menghadapi sains modern, atau sikapnya terhadap sains Islam, ilmuwan muslim tebagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok muslim yang apologetik. Kelompok ini menganggap sains modern bersifat universal dan netral. Oleh karena itu mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil sains modern dengan mencari-cari ayat al-Qur’an yang sesuai dengan teori dalam sains tersebut. Kedua, kelompok yang masih bekerja dengan sains modern, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmunya agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak Islami, maka fungsinya termodifikasi, sehingga dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan dan cita-cita Islam. Tetapi karena dengan eksperimen-eksperimen dan teknik-teknik yang kuantitatif sekalipun ia tidak lepas dari nilai-nilai, alih-alih mampu merealisasikan Islam, sains modern malah akan menjadi pendukung nilai-nilai Barat yang tak Islami. Ketiga, kelompok yang percaya adanya sains Islam dan berusaha membangunnya5. Berbicara tentang sains Islam dan bagaimana proses membangunnya, kiranya tidak akan lepas dari adanya upaya Islamisasi ilmu. Walaupun dalam hal ini terdapat kontroversial antara yang setuju dan yang tidak Diantara para ilmuwan ada yang setuju untuk menyesuaikan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu dengan ajaran Islam dan ada pula yang tidak menyetujui gagasan islamisasi ilmu, karena menurut mereka yang harus diislamkan adalah manusianya, bukan ilmunya. Keengganan ini tampaknya disebabkan sensitivitas terminologi tersebut dari segi objektivitas ilmiah. Sedangkan kelompok yang setuju disebabkan oleh sensitivitasnya dari segi rasa keagamaan, sehingga harus diikuti kalau memanga hendak bereksistensi sebagai seorang muslim6. Islamisasi ilmu merupakan suatu keharusan. Disamping Islam mempunyai pengarahan dalam aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu, dan masuknya ajaran Islam dalam aktivitas ilmiah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah, Islamisasi ilmupun diharapkan dapat mengimbangi kemajuan Barat sekaligus sebagai pemberantas berbagai akibat sampingan dari perkembangan ilmu dan teknologi modern yang telah dirasakan membahayakan kehidupan. Disamping itu, Kemajuan Islam di zaman klasik atau abad pertengahan Masehi dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban telah dipahami sebagai hasil usaha merealisasikan ajaran islam itu sendiri, maka untuk keluar dari keterbelakangan dewasa ini adalah dengan semangat kembali kepada Islam. Para pemikir dan cendekiawan muslim di penghujung abad 20 ini juga berpendapat demikian. Misalnya, Muhammad Naquib al-Attas dalam The concept of Education in Islam 47-56) serta Islam dan sekularisme (1981:195-203). Ismail Raji al-Faruqi (1982:3-8) mengkritik ilmu pengetahuan barat yang berkembang dewasa ini sebagai telah terlepas dari nilai dan harkat Manusia, dari nilai-nilai spiritual dan hubungan dengan Tuhan. Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf mengkritik ilmu barat sebagai yang tidak di tata untuk mewujudkan kesejahteraan dan menjunjung tinggi kemuliaan manusia (1979:7-35,74-91). Syed Hossein Nasr mengkritik ilmu pengetahuan tentang manusia dan masyarakat yang berkembang dewasa ini sebagai yang tidak mempunyai metode untuk lebih mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dalam kehidupan manusia karena harus didasarkan pada kenyataan empiris (1983:7-8). Maka mereka berpendapat bahwa dalam rangka membawa kesejahteraan bagi umat manusia, pengembangan ilmu pengetahuan perlu dikembalikan pada kerangka dan perspektif ajaran Islam. Ismail Raji al-Faruqi menyerukan perlunya dilaksanakan gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan. Di sinilah peranan penting filsafat sains Islam, yang dengan bantuannya hakikat ilmu-ilmu Islam dapat terungkap. Langkah-langkah dan paradigma Islamisasi Ilmu pengetahuan Langkah-langkah Islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Juhaya S. Praja, adalah sebagai berikut : 1. Penguasaan disiplin ilmu modern dengan menguraikannya kedalam ketegori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problem dan tema yang dominan di Barat. 2. Survey disiplin ilmu yang dibuat dalam bentuk essay untuk mengetahui garis besar asal-usul dan sejarah perkembangan dan metodologinya. Perluasan visi bidang kajiannya, dan konstribusi utamanya yang menyebabkan banyak penggemarnya. 3. Menguasai warisan Islam sebagai titik tolak Islamisasi pengetahuan. 4. Penyajian disiplin ilmu Islam yang relevan dan khas Islam. 5. Penilaian kritis atas disiplin ilmu 6. Penilaian kritis atas warisan Islam. 7. Melakukan survey atas masalah pokok umat Islam. 8. Survey atas masalah umat Islam. 9. Melakukan analisis kreatif dan sintesa yang hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai disiplin ilmu dan warisan Islam sekaligus serta melakukan analisis kritis terhadap keduanya. 10. Mentata ulang disiplin ilmu di bawah framework Islam : Menyediakan tekx book untuk Universitas. 11. Melaksanakan berbagai konfrensi, seminar, workshop dsb. Sebagai faculty training. Adapun paradigma Islamisasi ilmu pengetahuan yang harus di miliki oleh seorang Ilmuan adalah : 1. Teori Tentang Sifat Setiap Ilmu: “Subyektivitas dan byektivitas”. 2. Tauhidullah : Ilmu Tauhid : Dasar ilmu keagamaan dan ilmu kealaman. 3. Al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al- Sunnah. 4. Persesuaian antara akal dengan wahyu. 5. Pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya telah di jelaskan Rosul. 6. Keadilan. 7. Kebenaran itu ada dalam kenyataan bukan dalam alam pikiran. 8. Teori Fitrah. 9. Ilmu-ilmu Islam dan misi manusia7 Kesimpulan Pemisahan antara pendekatan ilmiah dan pendekatan wahyu menurut ajaran Islam tidak patut terjadi. Pengetahuan ilmiah yang didapatkan dengan pemahaman yang kritis terhadap fakta juga sering didasarkan pada landasan pemikiran tertentu, misalnya, berupa pandangan terhadap manusia, paradigma, postulat, konsep, prinsip, asumsi,dan hipotesis yang juga tidak dipertanyakan kebenaranya dan merupakan pilihan peneliti dari sekian banyak landasan pemikiran yang ada. Ajaran Islam juga berisi pandangan tertentu terhadap manusia dan kehidupan yang dapat menjadi landasan pemikiran dalam pengembangan berbagai ilmu. Berarti, memasukan ajaran Islam dalam penelitian ilmiah tidaklah menyalahi prinsip keilmuan. Oleh karena itu, dalam rangka mengimbangi kemajuan Barat dan sekaligus memberantas dampak negatif dari kemajuan ilmu dan teknologi modern, maka Islamisasi ilmu pengetahuan sudah sepatutnya untuk dilakukan. Studi filsafat sains Islam menempati posisi penting dalam upaya ini. DAFTAR PUSTAKA Agus, Bustanuddin. 1999. Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial: Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam. Jakarta: Gema Insani Press. Ananda, Sudamara. 2001. Filsafat Ilmu. Projustitia tahun XIX no. 2. Bakar, Osman. 1997. Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-pikir Islamisasi Ilmu. Bandung: Mizan. Garna, Judistira K, H.. 1999. Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika c.v.. Nazir. 1985. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia. Praja, Juhaya S.. 2000. Filsafat Ilmu: Menelusuri Struktur Filsafat Ilmu dan Ilmu-ilmu Islam. Bandung: Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung. Suriasumantri, Jujun S.. 1999. Filsafat Ilmu: sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Tafsir, Ahmad. 1999. Filsafat Ilmu. Bandung: Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung. 2 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1999, hal. 33 3 Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta 1985, hal. 9 4 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung, 1999, hal. 2 5 Sudamara Ananda, Filsafat Ilmu, Projustitia tahun XIX no. 2 April 2001 6 Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial: Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam, Gema Insani Press, Jakarta 1999, hal. 125 7 Juhaya S. Praja, Filsafat Ilmu Menelusuri Struktur Filsafat Ilmu dan Ilmu-ilmu Islam, Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung 2000, hal. 54 |









Filsafat, banyak orang menganggapnya sebagai suatu hal yang sulit untuk diterima keberadaannya. Tatkala mendengar ada orang berfilsafat, maka asumsi yang muncul cenderung menganggap bahwa dia mulai memasuki daerah yang menyesatkan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru dengan filasafatlah orang akan menemukan hakikat dari segala sesuatu yang ada, mengingat filsafat itu sendiri berarti melihat segala sesuatu dengan penuh perhatian dan minat, atau berfikir tentang segala sesuatu dengan disadarinya.